Langkah-langkah santriwati MA Muhammadiyah Purwokerto menyusuri Yogyakarta menjadi perjalanan penuh makna. Rihlah yang digelar pada Kamis, 30 April 2026 ini bukan sekadar rekreasi, melainkan sarana belajar dari alam, sejarah, dan budaya yang melekat di setiap destinasi.
Rangkaian perjalanan dimulai dari Pantai Drini, di mana para santriwati diajak mengenal ekosistem pesisir sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Selanjutnya, mereka menyusuri Goa Pindul dengan tubing, sebuah pengalaman yang menghadirkan pelajaran tentang geologi sekaligus menumbuhkan nilai kebersamaan.
Di Ibarbo Park, santriwati menemukan ruang rekreasi modern yang memadukan kreativitas dan inovasi, memberi inspirasi bahwa pendidikan juga berarti membuka diri terhadap perkembangan zaman. Perjalanan kemudian ditutup di Malioboro, ikon budaya Yogyakarta, yang menghadirkan pelajaran sosial melalui interaksi dengan masyarakat, seni, dan kehidupan kota yang dinamis.
Salah satu santriwati, Aisha, menyampaikan kesannya: “Rihlah ini membuat saya sadar bahwa ilmu dapat ditemukan di mana saja. Dari pantai, gua, taman, hingga Malioboro, semuanya memberi pelajaran berbeda.”
Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan sejati tidak mengenal batas ruang dan waktu. Setiap langkah adalah kesempatan untuk belajar, setiap tempat adalah sumber pengetahuan, dan setiap pengalaman adalah bekal berharga untuk menapaki masa depan.
Momentum ini semakin bermakna karena berdekatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Semangat Hardiknas mengingatkan bahwa pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa, dan rihlah ini menjadi wujud nyata bagaimana generasi muda dapat belajar dari alam, sejarah, budaya, serta interaksi sosial.
Dengan bekal pengalaman tersebut, para santriwati diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan siap mengabdikan diri bagi masyarakat. Seperti pesan Hardiknas, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk manusia seutuhnya. (ar)












